Jumat, 16 Oktober 2026

 

MENGABDI KARENA ALLAH, MERAWAT PERSAUDARAAN DALAM PERBEDAAN

         Oleh: Romdiyah, M.Pd.

MI ASH-SHIDDIQIN


       Pengabdian yang lebih dari sekerdar pekerjaan menjalankan tugas di ruang kelas, menyelesaikan administrasi, atau menerima hak setiap bulan. Menjadi guru adalah amanah, perjuangan, dan kesempatan untuk menanamkan ilmu serta akhlak kepada generasi penerus bangsa. Di balik setiap pelajaran yang disampaikan, ada harapan agar tumbuh manusia yang cerdas, berkarakter, dan bermanfaat bagi sesame.

Bagi seorang guru yang meluruskan niat karena Allah Swt., pekerjaan bukan hanya rutinitas, melainkan jalan pengabdian. Setiap kesabaran dalam membimbing murid, setiap keikhlasan dalam menjalankan tanggung jawab, dan setiap kebaikan yang diberikan memiliki makna tersendiri. Namun, pengabdian tidak selalu berjalan tanpa ujian. Ada kalanya kita menghadapi perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau kekecewaan dalam hubungan dengan rekan sejawat

Bagi seorang guru yang meluruskan niat karena Allah Swt., pekerjaan bukan hanya rutinitas, melainkan jalan pengabdian. Setiap kesabaran dalam membimbing murid, setiap keikhlasan dalam menjalankan tanggung jawab, dan setiap kebaikan yang diberikan memiliki makna tersendiri. Namun, pengabdian tidak selalu berjalan tanpa ujian. Ada kalanya kita menghadapi perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau kekecewaan dalam hubungan dengan rekan sejawat

Di sinilah ketulusan diuji... Mampukah kita tetap menjaga akhlak ketika hati kecewa? Mampukah kita mempertahankan semangat mendidik ketika hubungan dengan orang lain sedang tidak baik-baik saja?

Kita semua manusia yang memiliki perasaan, kelebihan, dan kekurangan. Tidak ada yang selalu benar, sebagaimana tidak ada pula yang selalu salah. Karena itu, ketika persoalan muncul, barangkali yang paling kita butuhkan bukanlah mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan kesediaan untuk saling memahami dan memperbaiki keadaan.

Berbeda Pendapat Bukan Berarti Harus Terpecah Belah

Dalam kehidupan, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Setiap guru memiliki pengalaman, pemikiran, dan cara pandang yang berbeda. Perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan bijaksana, tetapi dapat menjadi sumber perpecahan apabila ego lebih diutamakan daripada kebersamaan.

Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103 agar kita berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai. Sementara itu, QS. Al-Anfal ayat 46 mengingatkan agar kita tidak berbantah-bantahan sehingga menjadi lemah dan kehilangan kekuatan.

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan para pendidik. Ketika hubungan antarguru diwarnai perselisihan berkepanjangan, energi yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran justru terkuras oleh persoalan pribadi. Komunikasi menjadi renggang, kerja sama melemah, dan suasana kerja kehilangan kehangatannya.

Padahal, tujuan kita sama: mendidik anak-anak agar menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan kehilangan rasa hormat. Kita boleh menyampaikan kritik, tetapi sampaikanlah dengan santun. Kita boleh memperjuangkan kebenaran, tetapi jangan sampai cara kita memperjuangkannya melukai martabat orang lain.

Persatuan bukan berarti semua orang harus selalu sepakat. Persatuan berarti kita mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat, tanggung jawab, dan tujuan bersama.

Jangan sampai kita mengajarkan murid tentang persaudaraan, tetapi lupa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita mengajarkan pentingnya saling menghargai, tetapi sulit menghargai rekan yang memiliki pandangan berbeda.

 

Memaafkan Bukan Kelemahan, Mengalah Bukan Berarti Kalah

Salah satu keindahan akhlak seorang pendidik adalah kemampuannya mengendalikan diri dan membuka ruang untuk memaafkan. Dalam QS. Ali ‘Imran ayat 134, Allah Swt. memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Memaafkan memang tidak selalu mudah. Ada perkataan yang membekas di hati, ada sikap yang mengecewakan, dan ada keadaan yang membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Namun, menyimpan kemarahan terlalu lama dapat membuat hati lelah dan menghalangi kita melihat persoalan dengan jernih.

 

“Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, mengabaikan ketidakadilan, atau membiarkan persoalan terus berulang. Memaafkan adalah memilih untuk tidak memelihara kebencian, sekaligus berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang baik dan bertanggung jawab”.

Terkadang, satu permintaan maaf mampu membuka pintu yang lama tertutup. Satu percakapan dari hati ke hati dapat meluruskan kesalahpahaman. Bahkan, satu langkah kecil untuk berdamai dapat mengembalikan kenyamanan dalam bekerja.

Tidak perlu menunggu orang lain memulai kebaikan. Kita dapat memulainya dari diri sendiri: melembutkan ucapan, mengurangi prasangka, berani mengakui kekeliruan, dan bersedia mendengarkan. Jika persoalan menyangkut pelanggaran atau ketidakadilan, penyelesaian tetap perlu dilakukan melalui musyawarah dan mekanisme yang tepat. Menjaga persaudaraan tidak berarti menutup mata terhadap masalah, melainkan menyelesaikannya tanpa kehilangan akhlak.

 

Bekerjalah dengan Hati, Bukan dengan Emosi

Guru adalah teladan sebelum menjadi pemberi nasihat. Murid tidak hanya belajar dari apa yang kita ucapkan, tetapi juga dari bagaimana kita bersikap ketika menghadapi masalah.

Bekerja dengan hati bukan berarti kita tidak boleh kecewa, sedih, atau marah. Bekerja dengan hati berarti mampu mengelola perasaan agar tidak menguasai keputusan dan tindakan. Ketika emosi meningkat, belajarlah berhenti sejenak sebelum berbicara. Ketika terjadi kesalahpahaman, pilihlah klarifikasi daripada prasangka. Ketika ada perbedaan, utamakan musyawarah daripada saling menjatuhkan.

Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan untuk membuktikan bahwa diri kita benar. Ada kalanya menjaga hubungan baik jauh lebih berharga daripada memenangkan pertengkaran. Ada kalanya diam sejenak lebih bijaksana daripada melontarkan kata-kata yang kelak kita sesali.

Namun, menjaga hubungan baik bukan berarti memendam semua persoalan. Jika ada sesuatu yang perlu diperbaiki, sampaikanlah dengan jujur, santun, dan pada waktu yang tepat.

Mari bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kehadiran kita membuat lingkungan kerja lebih nyaman? Sudahkah perkataan kita menguatkan, bukan melemahkan? Sudahkah tindakan kita mendekatkan, bukan menjauhkan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan sebagai ruang introspeksi bagi kita semua. Sebab, perubahan yang baik sering kali dimulai ketika seseorang bersedia memperbaiki dirinya sendiri.

 

Menjaga Amanah, Menumbuhkan Keberkahan

Pada akhirnya, pengabdian seorang guru tidak hanya diukur dari lamanya masa kerja, banyaknya tugas yang diselesaikan, atau penghargaan yang diterima. Pengabdian juga tercermin dari keikhlasan, tanggung jawab, kesabaran, dan kemampuan menjaga hubungan baik dengan sesama. Jangan biarkan persoalan pribadi mengurangi perhatian kita kepada murid. Jangan biarkan perbedaan membuat kita melupakan tujuan bersama. Dan jangan biarkan satu kekecewaan menutupi begitu banyak kesempatan untuk berbuat baik.

Mari kita kembali mengingat niat awal ketika memilih jalan pendidikan. Ada murid yang membutuhkan bimbingan, ada orang tua yang menitipkan harapan, dan ada amanah yang harus kita tunaikan sebaik-baiknya.

Kita mungkin tidak mampu mengubah sikap semua orang, tetapi kita selalu dapat berusaha memperbaiki sikap diri sendiri. Kita tidak selalu dapat menghindari konflik, tetapi kita dapat memilih cara yang lebih bijaksana untuk menghadapinya.

 

“Mengabdi karena Allah berarti tetap berusaha berbuat baik meskipun keadaan tidak selalu mudah. Menjaga persaudaraan berarti tidak membiarkan perbedaan berubah menjadi permusuhan. Dan bekerja dengan hati berarti menempatkan akhlak di atas ego serta tanggung jawab di atas emosi”.

 

Mari jadikan sekolah dan madrasah sebagai tempat tumbuhnya ilmu, keteladanan, dan kasih sayang. Jika pernah berselisih, bukalah jalan untuk berdamai. Jika pernah menyakiti, beranilah meminta maaf. Jika pernah disakiti, berusahalah memaafkan tanpa mengabaikan penyelesaian yang adil.

Semoga kita menjadi guru yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menyejukkan hati; tidak hanya mengajarkan persatuan, tetapi juga menjalaninya; serta tidak hanya bekerja untuk memenuhi kewajiban, tetapi mengabdikan diri dengan niat yang tulus karena Allah Swt.

kemuliaan seorang guru tidak hanya terlihat dari ilmu yang diajarkannya, tetapi juga dari akhlak yang diteladankannya. Luruskan niat, lapangkan hati, jaga persaudaraan, dan teruslah mengabdi dengan penuh tanggung jawab.

 

 

Selasa, 06 Oktober 2026

 AKU LELAH 

Aku bagai sebuah roda yang berputar mengikuti arah sang tuan membawaku ...

Aku bukan sasaran lontaran yang sama sekali tak ku perbuat

Aku diam, bukan mengakui salahku 

Aku bercerita bukan mencari pangakuan dan memvalidasiku 

                Dalam tubuh kita ada darah orang yang sama mengalir di denyut nadi ini

                Dalam nafas kita pernah tersimpan hubungan darah yang tak terputus 

                Hentikan ... cukup ... 

                Semua ini membuat aku semakin menyalahi diriku yang bukan karena perlakuan aku 

Aku ini bukan musuhmu ...

Aku hanya menunggu getar perintah ayah 

Aku hanya mendengar jerit tangis ibu 

Sapaku kini kau anggap konyol dan biasa

              

                

Kamis, 26 Februari 2026

RELUNG CINTA 

            Senja mengelabui hatiku dengan rayuannya yang sangat menggoda hati, terbesit indahnya harapan yang penuh asa dalam sebuah mimpi, terbelalak mataku menatap gelapnya pandangan tertutup awan mulai menghitam. Jauh sudah langkah kaki ini berpijak dengan terpaan angin badai tetap kuatkan langkah menuju satu titik yang terang menderu harapan hidup. 

          kring, kring, suara dering handphone itu mulai mengejutkanku dari lamunan yang hampir terbang ke angkasa, panggilan penuh kejutan membuat aku seakan hidup kembali, akankah satu kisah terulang lagi, menyapa, tertawa bersama, melangkah bersama. dengan penuh harap hingga akhirnya kudengar apa yang terjadi mebuat semakin hancur hatiku, membuat tubuh ini terkulai tak berdaya, menjerit hati ini apakah ini akhir dari segalanya, atau segalanya akan berakhir saat ini. 

        Dengan tangisan hati akhirnya kulangkahkan kakiku yang seakan berat, menyapa dunia yang mulai tidak bersahabat, drak, drak, dengan kekuatan yang penuh kegigihan dalam kamar Nicu itu seseorang yang berada tepat disamping tubuhmu berusaha menekan tubuhmu dengan alat-alat medis menyakinkan diriku kembali bahwa kamu pasti akan baik-baik saja. 

        Tetap berjuang walau dengan hembusan nafas terakhirmu nak, ibu disisimu, hati ini berdamai dengan waktu, bahwa kamu akan selalu baik-baik saja hidup penuh cinta dan bahagia, namun ternyata dunia berhentik sejenak ketika orang yang berusaha dengan begitu kuatnya mengucapkan kamu sudah pergi, ku yakinkan hatiku untuk mengatakan kamu hanya tertidur, tetap kutatap penuh cinta wajahmu yang selamanya akan kukenang, tubuh indahmu yang begitu bersih dan putih, akhirnya butir air mata ini tak mampu lagi kubendung hanya kata ikhlas yang kini dapat kukatakan dari lubuk hatiku. 

        

Kamis, 27 November 2025

 

Ibuku Wanita Hebat

( Kekuatan Ibu Semangat Kami)

 

 

 

Karya : Romdiyah

MI. ASH-SHIDDIQIN

 

 

 

 

Pagi ini sangat cerah aku akan berangkat ke sekolah, namun pagi ini aku sedikit tak bahagia karena hanya mendapat sedikit uang jajan. Ini uang jajan caca. “ucap ibu kepada caca”, “Ibu … masa segini saja uang sekolah aku, untuk ke sekolah dengan uang jajan segini hanya dapat es teh dan bakwan, sementara teman-teman aku banyak sekali jajannya”.”jawab caca”. Ibu mengerutkan kening dan seolah mencoba untuk menenangkan aku.

 

Nak, itu dulu ya uang jajan yang ibu berikan untukmu, karena ibu hanya dapat uang segitu, nanti besok ibu pasti berikan lebih untuk kamu. Ibu seperti menahan tangis, uang itu ibu dapat hasil meminjam kepada tetangga. Ibu tetap tegar di hadapan kami seolah tak terjadi apa-apa.

 

Sudah ayo pergi sekolah, berapapun uang jajanmu itu sudah cukup, yang penting kamu harus rajin belajar ya dik.”ajak kakak seolah merayu aku untuk tidak merengek”

 

Aku dan kakak berpamitan dengan ibu untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah kami masuk ke dalam kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan belajar di kelas, eperti biasa aku semangat mengikuti kegiatan sekolah, agar dapat juara kelas

 

 

 

 

Hari itu jam pelajaran pertama Adalah upacara bendera, di sekolah aku setiap hari senin siswa menggunakan seragam rompi, hati aku mulai merasa tak nyaman dengan keadaan. Ibu … aku malu tidak berseragam, sementara kakak menggunakan seragam.

Sayang anak ibu yang cantik, seragam kakakmu masih kebesaran untuk kamu, nanti sebentar lagi kakakmu lulus sekolah, baju itu pasti untuk kamu. “ jawab ibu dengan nada merayuku lagi”. Tapi aku malu bu “ucap caca” ibu pasti belikan seragam sekolah untuk kamu seperti kakak, nanti ibu dapat uang pasti ibu belikan.”jawab ibu”

 

 

Bel sekolah pulang sekolah berbunyi. Teng … teng … teng, aku berlari segara pulang kerumah untuk mengganti pakaian sekolah. Ibu aku pulang, aku mengucapkan salam dan mencium tangan ibuku. Ibu, aku mau pergi dulu bermain Bersama teman-temanku.  Caca, makan dulu nak, ibu sudah menyiapkan makanan untukmu. ”ucap ibu”

 

Aku tengok di rak makan ternyata hanya oreg tempe yang basah yang selalu ibu masak untukku, aku tetap makan walaupun rasanya begitu membosankan. Setelah ini aku berkeliling berjualan es, jadi aku harus makan agar aku kuat, nanti kalau aku dapat uang bisa untuk menambah uang jajan sekolahku, ibu tak perlu tahu apa yang aku lakukan.”caca berucap dalam hatinya”

Es…es… es bombom enak, teriak aku seraya memanggil pembeli, semoga daganganku habis hari ini. Hai tukang es aku mau beli.” Panggil seorang anak hampir sebaya denganku”

 

Hari sudah hamper sore daganganku belum habis juga, akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan mengembalikan dagangan es kepada pemiliknya, berpapun hari ini yang aku dapat itu rezeki.

 

 

 

 

Aku berlari dengan kencang menuju ke rumah, sebelum aku mengucapkan salam nampak ibu dan kakak sedang asyik mengobrol berdua, akupun penasaran sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan. Terdengar suara mereka nampak begitu serius, aku semakin penasaran.

 

Ibu, saat ibu kecil dimana ibu bersekolah “ ucap kaka”. Saat ibu kecil ibu sangat sulit ke sekolah karena ibu harus bantu nenekmu terlebih dahulu ke sawah baru ibu bisa ke sekolah, bahkan ibu sering berlari-lari dari sawah agar tidak terlambat ke sekolah. Jika ibu tidak mau makan kami tidak memiliki beras yang bisa kami masak untuk makan.

 

Ibu, aku sangat sedih sekali mendengar cerita ibu, kemana ayah ibu?  “ucap kakak”. Ayah ibu sudah tidak ada, nenekmu membesarkan kami, ibu empat bersaudara yang tinggal bersama nenekmu. Saat kami lapar cukup dengan nasi dan sedikit garam saja sangat nikmat dimakan Bersama.

 

Saat ibu takut dengan gelapnya malam dan rumah bilik yang masih memiliki lubang-lubang di tengah kegelapan, ibu pejamkan mata erat-erat agar pagi hari segera datang,” ucap ibu kepada kakak”

 

 

 

Tak terasa mendengar percakapan ibu dan kakak, pipiku basah, ternyata cerita itu membuat aku haru dan menangis, aku begitu banyak sekali menyusahkan ibu, sementara kakak selalu sabar kepada keadaan.

 

Tapi, aku juga begitu kesal, mengapa ibu tidak mau menceritakan hal itu kepadaku juga, apakah ibu hanya saying kepada kakak, sedangkan aku anak yang menjengkelkan bagi ibu.

 

 

 

 

Geruduk geruduk… geruduk geruduk, bunyi petik sangat kencang sekali, aku berlari dan segera memeluk ibu. Ibu … aku takut. Ibu segera menghampiriku dan memeluk aku erat-erat.

 

Caca, kakak, cepat naik ke kasur sepertinya sebentar lagi hujan akan turun “Ucap Ibu”. aku dan kakak segera berlari ke Kasur. Setelah kami menaiki Kasur tak lama kemudian air begitu derasnya masuk ke rumahku yang berlantai kayu. Air itu berasal dari kali belakang rumahku yang meluap. Air itu mulai setinggi kasur yang aku tiduri. Ibu aku takut “teriak caca ketakutan”

 

 

Ibuku mulai mengganjal pintu rumah dengan kayu dan kain, tetap saja air itu deras mengalir, keesokan harinya air mulai setinggi paha orang dewasa, ibuku memutuskan menitipkan aku di rumah kediaman teman ayah bersama kakakku.

 

Walau hati ini berat namun aku harus ikuti perintah ibuku, karena aku yakin ini yang terbaik untuk kami. Caca dan kakak untuk sementara waktu tinggal di rumah teman ayah dulu ya, “ujar ibu kepada kami”. Baik ibu “kami menjawab dengan nada yang sedih”.

 

 

 

Kakak,  semoga ibu segera menjempu kita dari sini, akum au sama ibu.”ucap caca”. Sabar de, nanti kalau banjirnya sudah surut pasti ibu akan menjemput kita dari rumah ini. “jawab kaka”

 

Keeskokan harinya aku dan kaka di jemput ibu, hore… hore, ibu aku kangen sama ibu, sambil berlari dan memeluk tubuh ibuku yang Nampak begitu lelah. Caca, kakak sini, ibu memeluk kami berdua, ayo kita pulang, ibu berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada pemilik rumah.

 

 

 

Senang rasanya sekarang rumahku sudah tidak kebanjiran lagi, aku bisa bermain bersama kakak di rumah dan bisa tidur Bersama ibu lagi. Tetapi aku lihat ibu seperti sedang tidak baik-baik saja ada apa dengan ibu yah.

Keesokan harinya ibu tertidur nyenyak sekali dan tak bangun-bangun, mata ibu terpejam seakan sudah tidak bernyawa lagi. Ibu, ibu bangun, aku dan kakak menagis melihat ibu yang sudah seakan tak bernyawa, ibu… ibu… ibu… kupeluk dan kupanggil ibu sambil menangis pilu

 

 

 

Pagi itu, kami melihat ibu di kamarnya, saat itu ibu tidak bangun dan  tak bisa bergerak, bangun dari tempat tidur ibu tidak bisa, duduk tidak bisa, hanya matanya saja yang mulai terbuka, tubuh ibu yang mulai menguning, entah penyakit apakah ini yang ibu alami.

 

Kulihat dari sinar mata ibu yang mulai hampir redup, ada perjuangan ibu yang gigih untuk tetap bertahan, ibu, aku tahu ibu Wanita hebat, ibu kuat, aku sayang ibu, tetap bertahan ibu aku akan selalu menjagamu.

 

 

 

Setiap hari kami menyuapkan ibu, walau hanya sedikit yang masuk di mulut ibu kami tetap semangat berjuang menjaga ibu, ibu pasti lelah mengurus kami, ibu tetap semangat ya, kami akan selalu berjuang untuk ibu, tapi kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, kami tidak memiliki uang untuk membawa ibu ke dokter, untuk makan saja kami harus mendapat belas kasihan orang lain.

 

Caca, kakak, panggil ibu lirih, mata kami terbelalak melihat ibu mulai menggerakkan tangan sambil memanggil kami. Ibu… kami mendekat, ibu menangis, dan sudah bisa menggapai tangan kami sambil memeluk kami.

 

 

Nak, ibu baik-baik saja jangan menangis, ibu minta tolong kepada kalian, pergilah ke rumah teman ibu yayah untuk meminjam uang dan panggilkan dokter zein ke rumah ini.

 

Baik bu kakak akan ke rumah ibu yayah dan memanggilkan dokter ke sini, dek kakak pergi dulu, jaga ibu baik-baik ya”ucap kakak kepada caca”. Baik kak aku akan menjaga ibu selama kakak berada di luar rumah, “jawab caca”.

 

 

 

 

Suara dari luar rumah mulai terdengar, kakak, ternyata yang datang Bersama dokter zein dan ibu yayah. Senang rasa hati melihat dokter memeriksa ibu. Apa yang ibu rasakan,”tanya dokter kepada ibu”. Tubuhku terasa kaku dan tidak dapat bergerak dok, “jawab Ibu” dokter mengeluarkan alat terapi sederhana dan di dekatkan kepada ibu, setiap hari ibu diterapi oleh dokter dengan bantuan biaya dari teman ibu.

 

Setelah satu minggu ibu berhasil bisa berjalan kembali, senang rasanya hati ini, karena ibu sudah dapat berjalan kembali, kakak tetap bersiaga menjaga ibu agar tidak tumbang lagi.

 

 

Duk, duk, duk, sebelum shubuh suara yang biasa aku dengar terdengar Kembali, sepertinya ibu mulai beraktivitas Kembali. Aku dan kakak mulai terbangun, di meja sudah siap sarapan untuk kami seperti biasa ibu mulai memasak sebelum shubuh.

 

Caca, kakak, ibu akan pergi ke pasar untuk berjualan ikan, kalian bangun dan segera Bersiap-siap untuk bersekolah,”ucap ibu kepada kami”, baik ibu, “jawab kami” apakah ibu sudah sehat, “kakak bertanya kepada ibu”, sudah nak ibu sudah baik-baik saja”ucap ibu”

 

 

 

Seember ikan, dan satu kantong plastik ikan yang sudah ditusuki oleh tusukan sate digotong dengan penuh semangat oleh ibu. Aku berharap nanti Ketika aku sudah besar ibu tak harus susah seperti ini lagi, tak perlu duduk di pojok pasar dan berjualan ikan lagi.

 

Setelah kami pulang sekolah ibupun pulang dari pasar, kami selalu meilhat ibu walau Lelah tetap semangat, ibu menyisihkan uang hasil berdagangnya untuk biaya sekolah kami, agar kami bisa pergi ke sekolah seperti teman-teman kami yang lain, ibu tak ingin melihat kami sedih.

 

Caca, kakak, tetap semangat belajar ya, ibu akan selalu mendampingi kalian hingga nanti kalian sukses, jangan malu dengan keadaan kita yang saat ini belum seperti teman- teman kalian, hidup berkecukupan, pakaian bagus, jajan banyak, tapi malulah jika kalian tidak menjadi anak yang baik.

 

Ibu, kami pasti akan semangat, ibu tahu kan kami anak ibu yang tidak cengeng, kami kuat, pemberani dan pintar, “ucap kami kepada ibu”, sambil tersenyum kami saling berpelukan dan mendoakan satu sama lain, semoga kita semua menjadi bidadari-bidari ibu di surga.

 

BANGUN PAGI

 

Semangat Ceria Pagi Hari

 

BANGUN PAGI

Fase: A

Karya: Romdiyah

 

 

 

Kukuruyuk … Petok … Petok ….

Suara ayam mulai terdengar di telinga Fathir

pagi hari ini  sejuk dan segar

 

 

 

 

Bergegaslah fathir bangun tak lupa membaca doa

“ Alhamdulillahilladzi Ahyaana Ba’dama Amatana Wailaihinnusur”.

 

 

 

Dilepaslah selimut dari tubuh fathir dan ia berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan Bersiap-siap shalat shubuh

 

 

 

Ibu … Ibu … “Teriak suara Fathir dari bilik kamarnya” Aku sudah bangun ibu, aku bangun tepat saat suara adzan shubuh dan kokok ayam terdengar.

 

 

 

Setiap hari aku selalu bangun pagi agar tubuhku menjadi sehat dan kuat

 

 

 

 

Ibu melangkah dengan derap Langkah perlahan menuju kamar fathir, ibu memanggil Fathir dengan suara khasnya “Fathir anak shaleh Ibu”

 

 

 

Setelah mendekat ibu memeluk Fathir dengan seraya memujinya, “Fathir anak ibu yang shaleh, tampan dan rajin” dikecupnya kening fathir tanda ibu saying dengan Fathir.

 

 

 

Ibu … Ibu … Aku anak ibu, aku akan selalu membuat ibu bahagia dan tak akan menyusahkan ibu lagi

 

 

 

Setiap malam setelah aku shalat aku selalu berdo’a agar aku menjadi anak yang selalu membahagiakan ibu

 

 

 

Setiap malam aku tak pernah tidur larut malam, aku membuat jadwal kegiatan sehar-hari agar hidupku menjadi disiplin

 

 

 

Aku memulai hariku dengan selalu mengingat nasehat ibu, tidak boleh tidur malam, bangun pagi-pagi dan giat belajar

 

 

 

 

Setekah aku belajar, aku rapihkan Kembali semua alat-alat tulisku, aku siapkan buku untuk esok hari aku belajar di sekolah

 

 

 

 

Sebelum tidur aku mencuci tangan dan kakiku agar tubuhku sehat dan terbebas dari kuman serta bakteri

 

 

 

 

 

Oh ya ibu, sebelum aku tidur aku selalu membaca do’a, “Bismika Allahumma Ahya Wabismika Aamuut”

 

 

 

 

 

Aku padamkan lampu kamarku dan menggantinya dengan lampu tidur agar ibu tidak harus membayar mahal biaya Listrik

 

 

 

 

Sambil menunggu mataku terkantuk, ibu pasti membacakan Dongeng untukku

 

 

 

 

 

Aku tidur disebelah ibuku sambil mendengarkan dongeng yang dibacakan ibu, ku peluk erat tubuh ibu

 

 

 

 

 

Ternyata pelukan ibu membuat hatiku menjadi tenang dan tidurku menjadi pulas, aku Bahagia sekali memiliki ibu sepertimu ….

 

 

 

 

Sejak aku berusia 5 tahun aku selalu diajarkan ibu untuk belajar mandiri, bahkan di usia aku sekarang tidak manja lagi sama ibu

 

 

 

 

Ternyata dengan tidak tidur larut malam akan membuat kita terbiasa bangun pagi teman-teman, dengan demikian kita tidak akan terlambat datang ke sekolah

 

 

 

Bangun pagi sangat bermanfaat bagi tubuh kita, tubuh menjadi bugar, tidak mudah lesu karena sebelum ke sekolah kitab isa jalan pagi atau berolah raga rutin

 

 

 

 

Sekarang aku tak akan malas-malas lagi, aku akan selalu bangun pagi agar hidupku menjadi lebih semangat dan orangtuaku bangga memiliki anak seperti aku.

Kamis, 31 Juli 2025


KEINDAHAN DALAM KEGELAPAN 


Aku takjub dengan malam

Yang begitu hitam senyap

Yang terkadang kelam 

tentram dikala gelap 


Bukankah malam itu sendiri 

Betapa tidak malam tak pernah takut 

Bukannkah hidup ini misteri 

Beatapa tidak kamu tak perlu menjadi pengecut 


Jangan angkuh dengan takjubnya mentari 

Jangan sombong dengan terangnya matahari 

pasti .. dan itu pasti kamu membutuhkan kegelapanku 

Karna hidupmu jauh akan lebih berisitirahat dengan aku 




Sabtu, 26 April 2025

 AYO SEKOLAH DI MADRASAH IBTIDAIYAH ASH-SHIDDIAN


    Bersekolah di madrasah memberikan banyak manfaat, terutama dalam pengembangan karakter dan pemahaman keagamaan. Selain itu, madrasah juga memberikan pendidikan umum yang setara dengan sekolah lain, bahkan berbagai kegiatan pembiasaan agama dilaksanakan sebagai rutinitas speserta didik seperti shalat berjama'ah, praktik wudhu, praktik shalat untuk semua peserta didik, zikir mingguan, tahfidz qur'an, dll. 

Madrasah merupakan sekolah yang berciri khas agama Islam,  Madrasah  menyajikan  pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Madrasah merupakan pendidikan yang penyelenggaraannya di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia. Peranan madrasah sangat dirasakan banyak manfa’atnya dalam membantu mendidik serta mengembangkan anak bangsa. Madrasah sudah dapat membuktikan peserta didiknya menjadi siswa-siswi yang breprstasi.

Masih Ragu untuk bersekolah di Madrasah ????


Selain pengetahuan umum yang diajarkan di Madrasah, pengetahuan agama juga sangat diprioritaskan.  terdiri dari lima mata pelajaran, seperti :

  1.  Al-Qur’an Hadits. Mempelajari ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits yang terdiri dari belajar cara membaca dan menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar, hafalan ayat-ayat Al-Qur’an, hafalan Al-Hadits, dll
  2.  Akidah Akhlak. Mempelajari tentang ilmu akidah dan akhlak sehari-hari, seperti bagaimana cara menghormati kedua orangtua, belajar kalimat-kalimat thoyyibah, hafalan asmaul husna, dan masih banyak lagi;
  3. Sejarah Kebudayaan Islam. Mempelajari kisah-kisah perkembangan agama Islam zaman dahulu untuk diambil hikmahnya sebagai contoh yang bisa diterapkan dalam kegiatan sehari-hari;
  4. Fiqih. Ilmu Fiqih khusus mempelajari tentang cara-cara ilmu agama seperti, bagaimana cara sholat yang benar menurut aturan sebenarnya, cara memberikan zakat, cara melaksanakan tayamum, dan lain sebagainya;
  5. Bahasa Arab. mempelajari cara menulis huruf Arab, membaca huruf Arab, kosakata bahasa Arab, serta belajar membuat kalimat bahasa Arab. Jika di sekolah umum semua pelajaran agama diatas disatukan menjadi satu materi atau pembelajaran. Dengan begitu tentunya pembahasannya juga tidak akan serinci dan selengkap seperti pendidikan di Madrasah. Jadi jelas lebih menguntungkan sekolah di Madrasah daripada di sekolah umum.
  6. Tahfidz Alqur'an. Menghafal ayat-ayat dalam Al-Qur'an khusunya Juz 30.

Jadi sudah tidak ragu lagi yang sekolah di madrasah!!!!

Kegiatan shalat berjama'ah 



Semoga tidak ragu lagi mendaftarkan putra-puterinya di madrasah 
#madrasahhebatbermutumendunia
#madrasahibtidaiyahash-shiddiqin

  MENGABDI KARENA ALLAH, MERAWAT PERSAUDARAAN DALAM PERBEDAAN          Oleh: Romdiyah, M.Pd. MI ASH-SHIDDIQIN         P engabdian yan...