Kamis, 27 November 2025

 

Ibuku Wanita Hebat

( Kekuatan Ibu Semangat Kami)

 

 

 

Karya : Romdiyah

MI. ASH-SHIDDIQIN

 

 

 

 

Pagi ini sangat cerah aku akan berangkat ke sekolah, namun pagi ini aku sedikit tak bahagia karena hanya mendapat sedikit uang jajan. Ini uang jajan caca. “ucap ibu kepada caca”, “Ibu … masa segini saja uang sekolah aku, untuk ke sekolah dengan uang jajan segini hanya dapat es teh dan bakwan, sementara teman-teman aku banyak sekali jajannya”.”jawab caca”. Ibu mengerutkan kening dan seolah mencoba untuk menenangkan aku.

 

Nak, itu dulu ya uang jajan yang ibu berikan untukmu, karena ibu hanya dapat uang segitu, nanti besok ibu pasti berikan lebih untuk kamu. Ibu seperti menahan tangis, uang itu ibu dapat hasil meminjam kepada tetangga. Ibu tetap tegar di hadapan kami seolah tak terjadi apa-apa.

 

Sudah ayo pergi sekolah, berapapun uang jajanmu itu sudah cukup, yang penting kamu harus rajin belajar ya dik.”ajak kakak seolah merayu aku untuk tidak merengek”

 

Aku dan kakak berpamitan dengan ibu untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah kami masuk ke dalam kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan belajar di kelas, eperti biasa aku semangat mengikuti kegiatan sekolah, agar dapat juara kelas

 

 

 

 

Hari itu jam pelajaran pertama Adalah upacara bendera, di sekolah aku setiap hari senin siswa menggunakan seragam rompi, hati aku mulai merasa tak nyaman dengan keadaan. Ibu … aku malu tidak berseragam, sementara kakak menggunakan seragam.

Sayang anak ibu yang cantik, seragam kakakmu masih kebesaran untuk kamu, nanti sebentar lagi kakakmu lulus sekolah, baju itu pasti untuk kamu. “ jawab ibu dengan nada merayuku lagi”. Tapi aku malu bu “ucap caca” ibu pasti belikan seragam sekolah untuk kamu seperti kakak, nanti ibu dapat uang pasti ibu belikan.”jawab ibu”

 

 

Bel sekolah pulang sekolah berbunyi. Teng … teng … teng, aku berlari segara pulang kerumah untuk mengganti pakaian sekolah. Ibu aku pulang, aku mengucapkan salam dan mencium tangan ibuku. Ibu, aku mau pergi dulu bermain Bersama teman-temanku.  Caca, makan dulu nak, ibu sudah menyiapkan makanan untukmu. ”ucap ibu”

 

Aku tengok di rak makan ternyata hanya oreg tempe yang basah yang selalu ibu masak untukku, aku tetap makan walaupun rasanya begitu membosankan. Setelah ini aku berkeliling berjualan es, jadi aku harus makan agar aku kuat, nanti kalau aku dapat uang bisa untuk menambah uang jajan sekolahku, ibu tak perlu tahu apa yang aku lakukan.”caca berucap dalam hatinya”

Es…es… es bombom enak, teriak aku seraya memanggil pembeli, semoga daganganku habis hari ini. Hai tukang es aku mau beli.” Panggil seorang anak hampir sebaya denganku”

 

Hari sudah hamper sore daganganku belum habis juga, akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan mengembalikan dagangan es kepada pemiliknya, berpapun hari ini yang aku dapat itu rezeki.

 

 

 

 

Aku berlari dengan kencang menuju ke rumah, sebelum aku mengucapkan salam nampak ibu dan kakak sedang asyik mengobrol berdua, akupun penasaran sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan. Terdengar suara mereka nampak begitu serius, aku semakin penasaran.

 

Ibu, saat ibu kecil dimana ibu bersekolah “ ucap kaka”. Saat ibu kecil ibu sangat sulit ke sekolah karena ibu harus bantu nenekmu terlebih dahulu ke sawah baru ibu bisa ke sekolah, bahkan ibu sering berlari-lari dari sawah agar tidak terlambat ke sekolah. Jika ibu tidak mau makan kami tidak memiliki beras yang bisa kami masak untuk makan.

 

Ibu, aku sangat sedih sekali mendengar cerita ibu, kemana ayah ibu?  “ucap kakak”. Ayah ibu sudah tidak ada, nenekmu membesarkan kami, ibu empat bersaudara yang tinggal bersama nenekmu. Saat kami lapar cukup dengan nasi dan sedikit garam saja sangat nikmat dimakan Bersama.

 

Saat ibu takut dengan gelapnya malam dan rumah bilik yang masih memiliki lubang-lubang di tengah kegelapan, ibu pejamkan mata erat-erat agar pagi hari segera datang,” ucap ibu kepada kakak”

 

 

 

Tak terasa mendengar percakapan ibu dan kakak, pipiku basah, ternyata cerita itu membuat aku haru dan menangis, aku begitu banyak sekali menyusahkan ibu, sementara kakak selalu sabar kepada keadaan.

 

Tapi, aku juga begitu kesal, mengapa ibu tidak mau menceritakan hal itu kepadaku juga, apakah ibu hanya saying kepada kakak, sedangkan aku anak yang menjengkelkan bagi ibu.

 

 

 

 

Geruduk geruduk… geruduk geruduk, bunyi petik sangat kencang sekali, aku berlari dan segera memeluk ibu. Ibu … aku takut. Ibu segera menghampiriku dan memeluk aku erat-erat.

 

Caca, kakak, cepat naik ke kasur sepertinya sebentar lagi hujan akan turun “Ucap Ibu”. aku dan kakak segera berlari ke Kasur. Setelah kami menaiki Kasur tak lama kemudian air begitu derasnya masuk ke rumahku yang berlantai kayu. Air itu berasal dari kali belakang rumahku yang meluap. Air itu mulai setinggi kasur yang aku tiduri. Ibu aku takut “teriak caca ketakutan”

 

 

Ibuku mulai mengganjal pintu rumah dengan kayu dan kain, tetap saja air itu deras mengalir, keesokan harinya air mulai setinggi paha orang dewasa, ibuku memutuskan menitipkan aku di rumah kediaman teman ayah bersama kakakku.

 

Walau hati ini berat namun aku harus ikuti perintah ibuku, karena aku yakin ini yang terbaik untuk kami. Caca dan kakak untuk sementara waktu tinggal di rumah teman ayah dulu ya, “ujar ibu kepada kami”. Baik ibu “kami menjawab dengan nada yang sedih”.

 

 

 

Kakak,  semoga ibu segera menjempu kita dari sini, akum au sama ibu.”ucap caca”. Sabar de, nanti kalau banjirnya sudah surut pasti ibu akan menjemput kita dari rumah ini. “jawab kaka”

 

Keeskokan harinya aku dan kaka di jemput ibu, hore… hore, ibu aku kangen sama ibu, sambil berlari dan memeluk tubuh ibuku yang Nampak begitu lelah. Caca, kakak sini, ibu memeluk kami berdua, ayo kita pulang, ibu berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada pemilik rumah.

 

 

 

Senang rasanya sekarang rumahku sudah tidak kebanjiran lagi, aku bisa bermain bersama kakak di rumah dan bisa tidur Bersama ibu lagi. Tetapi aku lihat ibu seperti sedang tidak baik-baik saja ada apa dengan ibu yah.

Keesokan harinya ibu tertidur nyenyak sekali dan tak bangun-bangun, mata ibu terpejam seakan sudah tidak bernyawa lagi. Ibu, ibu bangun, aku dan kakak menagis melihat ibu yang sudah seakan tak bernyawa, ibu… ibu… ibu… kupeluk dan kupanggil ibu sambil menangis pilu

 

 

 

Pagi itu, kami melihat ibu di kamarnya, saat itu ibu tidak bangun dan  tak bisa bergerak, bangun dari tempat tidur ibu tidak bisa, duduk tidak bisa, hanya matanya saja yang mulai terbuka, tubuh ibu yang mulai menguning, entah penyakit apakah ini yang ibu alami.

 

Kulihat dari sinar mata ibu yang mulai hampir redup, ada perjuangan ibu yang gigih untuk tetap bertahan, ibu, aku tahu ibu Wanita hebat, ibu kuat, aku sayang ibu, tetap bertahan ibu aku akan selalu menjagamu.

 

 

 

Setiap hari kami menyuapkan ibu, walau hanya sedikit yang masuk di mulut ibu kami tetap semangat berjuang menjaga ibu, ibu pasti lelah mengurus kami, ibu tetap semangat ya, kami akan selalu berjuang untuk ibu, tapi kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, kami tidak memiliki uang untuk membawa ibu ke dokter, untuk makan saja kami harus mendapat belas kasihan orang lain.

 

Caca, kakak, panggil ibu lirih, mata kami terbelalak melihat ibu mulai menggerakkan tangan sambil memanggil kami. Ibu… kami mendekat, ibu menangis, dan sudah bisa menggapai tangan kami sambil memeluk kami.

 

 

Nak, ibu baik-baik saja jangan menangis, ibu minta tolong kepada kalian, pergilah ke rumah teman ibu yayah untuk meminjam uang dan panggilkan dokter zein ke rumah ini.

 

Baik bu kakak akan ke rumah ibu yayah dan memanggilkan dokter ke sini, dek kakak pergi dulu, jaga ibu baik-baik ya”ucap kakak kepada caca”. Baik kak aku akan menjaga ibu selama kakak berada di luar rumah, “jawab caca”.

 

 

 

 

Suara dari luar rumah mulai terdengar, kakak, ternyata yang datang Bersama dokter zein dan ibu yayah. Senang rasa hati melihat dokter memeriksa ibu. Apa yang ibu rasakan,”tanya dokter kepada ibu”. Tubuhku terasa kaku dan tidak dapat bergerak dok, “jawab Ibu” dokter mengeluarkan alat terapi sederhana dan di dekatkan kepada ibu, setiap hari ibu diterapi oleh dokter dengan bantuan biaya dari teman ibu.

 

Setelah satu minggu ibu berhasil bisa berjalan kembali, senang rasanya hati ini, karena ibu sudah dapat berjalan kembali, kakak tetap bersiaga menjaga ibu agar tidak tumbang lagi.

 

 

Duk, duk, duk, sebelum shubuh suara yang biasa aku dengar terdengar Kembali, sepertinya ibu mulai beraktivitas Kembali. Aku dan kakak mulai terbangun, di meja sudah siap sarapan untuk kami seperti biasa ibu mulai memasak sebelum shubuh.

 

Caca, kakak, ibu akan pergi ke pasar untuk berjualan ikan, kalian bangun dan segera Bersiap-siap untuk bersekolah,”ucap ibu kepada kami”, baik ibu, “jawab kami” apakah ibu sudah sehat, “kakak bertanya kepada ibu”, sudah nak ibu sudah baik-baik saja”ucap ibu”

 

 

 

Seember ikan, dan satu kantong plastik ikan yang sudah ditusuki oleh tusukan sate digotong dengan penuh semangat oleh ibu. Aku berharap nanti Ketika aku sudah besar ibu tak harus susah seperti ini lagi, tak perlu duduk di pojok pasar dan berjualan ikan lagi.

 

Setelah kami pulang sekolah ibupun pulang dari pasar, kami selalu meilhat ibu walau Lelah tetap semangat, ibu menyisihkan uang hasil berdagangnya untuk biaya sekolah kami, agar kami bisa pergi ke sekolah seperti teman-teman kami yang lain, ibu tak ingin melihat kami sedih.

 

Caca, kakak, tetap semangat belajar ya, ibu akan selalu mendampingi kalian hingga nanti kalian sukses, jangan malu dengan keadaan kita yang saat ini belum seperti teman- teman kalian, hidup berkecukupan, pakaian bagus, jajan banyak, tapi malulah jika kalian tidak menjadi anak yang baik.

 

Ibu, kami pasti akan semangat, ibu tahu kan kami anak ibu yang tidak cengeng, kami kuat, pemberani dan pintar, “ucap kami kepada ibu”, sambil tersenyum kami saling berpelukan dan mendoakan satu sama lain, semoga kita semua menjadi bidadari-bidari ibu di surga.

 

BANGUN PAGI

 

Semangat Ceria Pagi Hari

 

BANGUN PAGI

Fase: A

Karya: Romdiyah

 

 

 

Kukuruyuk … Petok … Petok ….

Suara ayam mulai terdengar di telinga Fathir

pagi hari ini  sejuk dan segar

 

 

 

 

Bergegaslah fathir bangun tak lupa membaca doa

“ Alhamdulillahilladzi Ahyaana Ba’dama Amatana Wailaihinnusur”.

 

 

 

Dilepaslah selimut dari tubuh fathir dan ia berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan Bersiap-siap shalat shubuh

 

 

 

Ibu … Ibu … “Teriak suara Fathir dari bilik kamarnya” Aku sudah bangun ibu, aku bangun tepat saat suara adzan shubuh dan kokok ayam terdengar.

 

 

 

Setiap hari aku selalu bangun pagi agar tubuhku menjadi sehat dan kuat

 

 

 

 

Ibu melangkah dengan derap Langkah perlahan menuju kamar fathir, ibu memanggil Fathir dengan suara khasnya “Fathir anak shaleh Ibu”

 

 

 

Setelah mendekat ibu memeluk Fathir dengan seraya memujinya, “Fathir anak ibu yang shaleh, tampan dan rajin” dikecupnya kening fathir tanda ibu saying dengan Fathir.

 

 

 

Ibu … Ibu … Aku anak ibu, aku akan selalu membuat ibu bahagia dan tak akan menyusahkan ibu lagi

 

 

 

Setiap malam setelah aku shalat aku selalu berdo’a agar aku menjadi anak yang selalu membahagiakan ibu

 

 

 

Setiap malam aku tak pernah tidur larut malam, aku membuat jadwal kegiatan sehar-hari agar hidupku menjadi disiplin

 

 

 

Aku memulai hariku dengan selalu mengingat nasehat ibu, tidak boleh tidur malam, bangun pagi-pagi dan giat belajar

 

 

 

 

Setekah aku belajar, aku rapihkan Kembali semua alat-alat tulisku, aku siapkan buku untuk esok hari aku belajar di sekolah

 

 

 

 

Sebelum tidur aku mencuci tangan dan kakiku agar tubuhku sehat dan terbebas dari kuman serta bakteri

 

 

 

 

 

Oh ya ibu, sebelum aku tidur aku selalu membaca do’a, “Bismika Allahumma Ahya Wabismika Aamuut”

 

 

 

 

 

Aku padamkan lampu kamarku dan menggantinya dengan lampu tidur agar ibu tidak harus membayar mahal biaya Listrik

 

 

 

 

Sambil menunggu mataku terkantuk, ibu pasti membacakan Dongeng untukku

 

 

 

 

 

Aku tidur disebelah ibuku sambil mendengarkan dongeng yang dibacakan ibu, ku peluk erat tubuh ibu

 

 

 

 

 

Ternyata pelukan ibu membuat hatiku menjadi tenang dan tidurku menjadi pulas, aku Bahagia sekali memiliki ibu sepertimu ….

 

 

 

 

Sejak aku berusia 5 tahun aku selalu diajarkan ibu untuk belajar mandiri, bahkan di usia aku sekarang tidak manja lagi sama ibu

 

 

 

 

Ternyata dengan tidak tidur larut malam akan membuat kita terbiasa bangun pagi teman-teman, dengan demikian kita tidak akan terlambat datang ke sekolah

 

 

 

Bangun pagi sangat bermanfaat bagi tubuh kita, tubuh menjadi bugar, tidak mudah lesu karena sebelum ke sekolah kitab isa jalan pagi atau berolah raga rutin

 

 

 

 

Sekarang aku tak akan malas-malas lagi, aku akan selalu bangun pagi agar hidupku menjadi lebih semangat dan orangtuaku bangga memiliki anak seperti aku.

Kamis, 31 Juli 2025


KEINDAHAN DALAM KEGELAPAN 


Aku takjub dengan malam

Yang begitu hitam senyap

Yang terkadang kelam 

tentram dikala gelap 


Bukankah malam itu sendiri 

Betapa tidak malam tak pernah takut 

Bukannkah hidup ini misteri 

Beatapa tidak kamu tak perlu menjadi pengecut 


Jangan angkuh dengan takjubnya mentari 

Jangan sombong dengan terangnya matahari 

pasti .. dan itu pasti kamu membutuhkan kegelapanku 

Karna hidupmu jauh akan lebih berisitirahat dengan aku 




Sabtu, 26 April 2025

 AYO SEKOLAH DI MADRASAH IBTIDAIYAH ASH-SHIDDIAN


    Bersekolah di madrasah memberikan banyak manfaat, terutama dalam pengembangan karakter dan pemahaman keagamaanSelain itu, madrasah juga memberikan pendidikan umum yang setara dengan sekolah lain, bahkan berbagai kegiatan pembiasaan agama dilaksanakan sebagai rutinitas speserta didik seperti shalat berjama'ah, praktik wudhu, praktik shalat untuk semua peserta didik, zikir mingguan, tahfidz qur'an, dll. 

Madrasah merupakan sekolah yang berciri khas agama Islam,  Madrasah  menyajikan  pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Madrasah merupakan pendidikan yang penyelenggaraannya di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia. Peranan madrasah sangat dirasakan banyak manfa’atnya dalam membantu mendidik serta mengembangkan anak bangsa. Madrasah sudah dapat membuktikan peserta didiknya menjadi siswa-siswi yang breprstasi.

Masih Ragu untuk bersekolah di Madrasah ????


Selain pengetahuan umum yang diajarkan di Madrasah, pengetahuan agama juga sangat diprioritaskan.  terdiri dari lima mata pelajaran, seperti :

  1.  Al-Qur’an Hadits. Mempelajari ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits yang terdiri dari belajar cara membaca dan menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar, hafalan ayat-ayat Al-Qur’an, hafalan Al-Hadits, dll
  2.  Akidah Akhlak. Mempelajari tentang ilmu akidah dan akhlak sehari-hari, seperti bagaimana cara menghormati kedua orangtua, belajar kalimat-kalimat thoyyibah, hafalan asmaul husna, dan masih banyak lagi;
  3. Sejarah Kebudayaan Islam. Mempelajari kisah-kisah perkembangan agama Islam zaman dahulu untuk diambil hikmahnya sebagai contoh yang bisa diterapkan dalam kegiatan sehari-hari;
  4. Fiqih. Ilmu Fiqih khusus mempelajari tentang cara-cara ilmu agama seperti, bagaimana cara sholat yang benar menurut aturan sebenarnya, cara memberikan zakat, cara melaksanakan tayamum, dan lain sebagainya;
  5. Bahasa Arab. mempelajari cara menulis huruf Arab, membaca huruf Arab, kosakata bahasa Arab, serta belajar membuat kalimat bahasa Arab. Jika di sekolah umum semua pelajaran agama diatas disatukan menjadi satu materi atau pembelajaran. Dengan begitu tentunya pembahasannya juga tidak akan serinci dan selengkap seperti pendidikan di Madrasah. Jadi jelas lebih menguntungkan sekolah di Madrasah daripada di sekolah umum.
  6. Tahfidz Alqur'an. Menghafal ayat-ayat dalam Al-Qur'an khusunya Juz 30.

Jadi sudah tidak ragu lagi yang sekolah di madrasah!!!!

Kegiatan shalat berjama'ah 



Semoga tidak ragu lagi mendaftarkan putra-puterinya di madrasah 
#madrasahhebatbermutumendunia
#madrasahibtidaiyahash-shiddiqin

Minggu, 22 September 2024

 

Judul                  : LUKA TAK SELAMANYA DUKA

Nama Penulis    : Romdiyah, M.Pd

Instasi                : MI. ASH-SHIDDIQIN

Ada satu titik yang mungkin terlihat terang, namun dititik itu ternyata ada sebuah harapan yang tak pernah terduga. Setiap orang pasti punya peristiwa, setiap masa pasti punya pengalaman, baik buruk hidup itu kenyataan, ada susah, ada duka itulah hiasan.

Perjuangan yang tak pernah henti, tak kenal lelah, tak kenal letih, terus berjuang tanpa henti hanya memohon ridho Ilahi. Seorang lelaki yang tak begitu gemuk tubuhnya, namun kuatnya tekadnya yang menjadikan aku hingga sampai saat ini mampu menopang dunia.

Begitu banyak sejarah yang kita lewati bersama, begitu banyak pelajaran yang telah kita alami bersama. Semakin membuatku sadar bahwa hidup ini adalah permulaan menuju kebahagiaan. Sosok itu adalah seorang ayah, dialah yang menjadi panorama hidup hingga aku mampu berdiri sampai saat ini dan beristiqomah tetap selalu di jalan-Nya.

Kami bersama-sama tak pernah merasa malu menjadi seorang pendidik meski kami telah kehilangan sekolah karena hancur oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, tetapi kami tetap bertahan mendidik, mengajarkan siswa-siswi kami di kediaman rumah kami. Hidup kami akhir-akhir ini penuh dengan ejekan, gunjingan, dari orang-orang terdekat, mereka tidak tergugah membantu namun hanya merendahkan kami.

Seperti biasanya setiap pagi kami mendidik dan mengajar di kediaman rumah kami, jumlah siswa semakin habis karena kondisi fasilitas yang sudah tidak memenuhi standar Pendidikan.

Saat itu kami mengajar dengan sisa jumlah guru 3 orang, aku, kakakku dan teman kakakku. Kami mengajar dengan masing-masing memegang dua kelas. Saat itu sisa murid kami itu setiap kelasnya ada yang berkisar 3 – 10 siswa rata-rata dari setiap rombongan belajar.

Kami mengajar di rumah kediaman orang tua kami, saat itu guru-guru yang lain sudah berhenti karena sekolah kami hancur. Dengan tekad kami memulai Langkah terus tanpa gentar tetap istiqomah karena Allah pasti akan menolong hamba-Nya yang sabar.

Kakakku yang sudah terbiasa mengajar di kelas rendah sejak tahun 1998 dia mengajar dengan penuh kesabaran, walau terkadang kami malu saat mengikuti rapat Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) karena kami saat itu sudah tidak memiliki fasilitas sekolah untuk kegiatan belajar mengajar. Kami tiga bersaudara Perempuan yang saat itu duduk di bangku kuliah, disuatu universitas Pendidikan Agama Islam Jakarta. Dengan penuh harap kami berusaha akan Bersama-sama membangun sekolah kami yang hancur. Saat itu sekitar 18 tahun silam kami mengajar tidak pernah memikirkan berapa honor yang kami terima dan bahkan kami tidak mendapat hak pembayaran karena sekolah kami gratis tidak memungut biaya apapun. Atas kekuatan dan do’a walaupun kehidupan kami tidak seberuntung orang lain, tetap dalam hati usaha tidak membohongi hasil, karena kita masih punya sang Khaliq yang maha memberikan kecukupan atas segala kebuhan.

Aktivitas pagi tetap dengan semangat senyuman dan doa terindah seperti biasa kami membagi tugas dengan teman satu perjuangan mengajar dengan pembelajaran kelas rangkap karena saat itu hanya kami berempat yang mengajar di sekolah kami dengan kegiatan pembelajaran di rumah ayahanda kami.

Tanpa malu-malu karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk bertahan hidup dengan penghasilan yang tidak menentu, saat istirahat tiba akupun mulai beraksi, mengekplor kemampuan yang dimiliki bukan hanya sekedar mengajar, mengurus anak, namun juga harus menjadi seorang pedagang mie Sakura serta gorengan cemilan frozen saat istirahat siswa di sekolah kami dan sepulang sekolah. Aku berdagang di depan halam oran tuaku demi untuk menambah penghasilan kehidupan keluarga keciku walaupun hanya 15.000 yang kuperoleh dari hasil keuntungan dagang tetap aku harus bersyukur karena dengan rezeki itu aku bisa membelikan jajanan untuk anak-anakku yang masih kecil.

Saat ini hanya kata Syukur yang terucap dalam hati, hingga denga napa yang diperoleh kami tetap bertahan hidup walau kami belum mampu memcukupi kebutuhan makan, tetapi masih ada orang tuaku yang selalu mengasihi kami, setiap hari kami hidup dan tinggal Bersama, aku, suamiku dan kedua anakku yang selalu mendapat makan dari orang tuaku dsebabkan keadaan ekonomi kami benar-benar tidak stabil dan sangat kekurangan.

Perjuangan tak hanya berhenti disini dengan kemampuan kami mengajar kami terus dapat meluluskan siswa-siswi kami dan bahkan ada yang sudah menjadi polisi, S1 programmer, perawat dan sebagainya. Tidak ada rasa mundur dalam hati kami disaat kami tak mampu berkata hanya doa yang mampu menembus segala duka yang kami hadapi Bersama.

Beberapa tahun kemudian kami sudah dapat membangun sekolah kami dua local Tingkat, dengan kondisi lantai satu urugan tanah dan halaman teras urugan puing. Untuk menuju ke lantai dua kami harus manaiki tangga yang terbuat dari kayu kaso sambung-sambungan dan sangat lumayan sulit bagi kami menanjak dengan Langkah terburu-buru.

Keesokan harinya seperti biasa saya dan kakak saya nomor dua mengajar Bersama dalam satu ruang yang masing-masing ruang belum terskat dengan dinding. Seperti biasa kami mengajar dengan membawa anak kami yang saat itu berusia sekitar 3 tahun dan bermain Bersama di dalam kelas. Aku dan kakakku sedang menikmati proses belajar mengajar di dalam kelas tiba-tiba terdengar suara seperti benda yang terjatuh sangat kencang sekali ….. buuuuuuuk dilanjut suara jeritan orang disekitar sekolah yang sangat histeris.

Tergesa-gesa kami menuju arah suara, namun apa yang terjadi anak Perempuan kakaku yang berusia 3 tahun itu terjaduh di lantai dasar dengan posisi sudah tak sadarkan diri dan kepala gembur.

Ya Allah …. Hanya suara isak tangis yang bisa kami lakukan, saat itu kakakku pingsan dan anaknya segera dilarikan ke salah satu rumah sakit terbesar kelas A yang ada di daerah kami.

Terenyuh hati, bimbang, gelisah, penuh sesal, ya Allah … haruskah kami melangkah dengan segala kekurangan ini, haruskah kami tetap berjuang dengan segala kesusahan yang selama ini kami hadapi beberapa tahun ini. Satu kata mulai muncul …. Ya Allah aku takut, saat ini aku mulai lemah dengan melihat apa yang terjadi, karena kami mengajar sama-sama membawa anak kami yang usia hamper sebaya beda 6 bulan.

Anak adalah anugerahMu ya Rob, mereka tak salah mengapa mereka harus mendapat sesuatu yang menyakitkan tubuhnya, kami yang salah tak sepantasnya kami berjuang terlalu berlebih, mulailah bisikan ini muncul yang menggoyahkan hati kami. Jika ini merupakan ujian kami pasrah, jika ini merupakan peringatan kami mohon ampun atas semua kelalaian yang terjadi.

Genap 15 hari di rawat dengan diberikan obat otak akhirnya kondisi anak kakakku mulai membaik, tetap bersyukur dan beristiqomah dengan sesuatu takdir yang diterima, mungkinkah kami harus gentar menghadapi semua ini. Ada sosok ayah yang merupakan tokoh agama dalam lingkungan Masyarakat menguatkan tekad kami yang sudah mulai goyah, seandainya akar kami ini sudah kering, daun kami sudah kering mungkin kami akan mulai mundur dan memilih diam seperti tak melihat keadaan kondisi sekolah kami yang sangatlah miris sekali. Segala yang dirasakan semoga tak terulang kembali.

Mulai melangkah Kembali ke depan menata segala yang kurang dengan penuh harap semua ini akan menjadi lebih baik. Atas kehendak takdir Allah siswa kami mulai bertambah, kegigihan kami berkeliling menyakinkan Masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anaknya di lembaga Pendidikan kami berbuih hasil. Kerjasama yang sangat luar biasa yang menghantarkan kami tetap berada di jalanMu ya Allah.

Ternyata, belum tuntas sampai disini dunia berputar sesuai dengan garis edarnya, langit tetap biru sesuai dengan hakikatnya, matahari bersinar terang sesuai dengan kodratnya. Pagi itu saat jam Pelajaran sudah dimulai dan anakku sedang beristirahat tidur dipanggillah aku dengan suara yang mengejutkan, akupun berlari menuju suara itu, namun apa yang terjadi anakku yang aku sayangi dan cintai nafasnya begitu cepat perutnya menraik nafas dalam-dalam, dengan derai air mata aku gendong, aku peluk erat tubuhnya dan membawanya ke rumah sakit.

Saat itu kondisiku yang tidak memiliki jaminan Kesehatan dan BPJS yang membuat anakku tak disentuh sedikitpun oleh dokter, dengan penuh harap dan tangis aku dan kakaku meminta bantuan dokter, tanpa uang semua akan sia-sia saat itu, tak sedikitpun yang dapat kami lakukan karena tidak mampu membayar biaya rawat inap anakku saat itu sebesar 500.000,-.

Mirisnya nasib seorang guru dengan penghasilan hanya 150.000 perbulan yang belum tentu dibayarkan rutin setiap bulannya. Dahulu rumah sakit itu milik orang berduit, dahulu itu rawat inap saja kami tidak mampu, dengan nada tinggi dan digebraklah meja salah satu doctor oleh kakakku. “ Hai lihat posisi kepokan saya yang sudah sangat tersiksa, dengan nafasnya yang sesak apakah kalian tega melihat keadaan ini” ucap kakakku. Akhirnya atas pertolongan dari Allah, anakku segara ditangani dokter walau tanpa ada biaya pendaftaran yang kami bayarkan.

Hari berikutnya secercah harapan dan pertolongan datang untuk meminjamkan biaya perawatan terhadap anakku sebesar 3.000.000. Allah tidak pernah membiarkan hambanya seorang diri, Allah maha baik, dan kamipu selalu bersyukur atas segala musibah yang menimpa kami semua.

Sebagai seorang pendidik modal utama merupakan keikhlasan jika dihitung dalam logika matematika dan dikalkulasikan dengan bilangan suatu jumlah hal yang sangat mustahil mampu bertahan hidup dengan penghasilan Rp. 150.000,- namun itu semua keberkahan yang menjadikan semua guru-guru layak dan hidup bahagia. Tahun berjalan dan berganti setelah setelah kurang lebih enam tahun perjuangan itu berlalu semakin ke depan semakin lebih baik.

Rabu, 01 Desember 2021

Motivasi Menulis

 pertemuan 26 

Motivasi Menulis 


Narasunber : Dail Ma'ruf. M. Pd

Moderator : Raliyanti 

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum wr wb.

Apa kabar bapak ibu hebat di seluruh nusantara? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal'afiat dan tetap semangat untuk belajar.

Bapak ibu yang berbahagia. Seyogyanya malam ini Pak Fajar yang akan hadir sebagai narasumber. Namun qadarullah, beliau sdg dalam perjalanan sehingga malam ini beliau tidak bisa hadir di tengah-tengah kita.

Dan Alhamdulillah... Ada Bapak motivator kita yang sudah bapak ibu kenal di grup ini siap untuk menyemangati bapak ibu untuk menghasilkan karya. Beliau adalah Bapak Dail Ma'ruf. 

Bersama bu Rali .... Bpk Dail adalah Alumni Kelas Belajar Menulis Gelombang ke-20 dan beliau adalah ketua kelasnya. Naik kelas dengan cepat, secepat F1.

Dari peserta dan sekarang sudah bermahkota sebagai penulis, kemudian menjadi moderator dan lanjut menjadi narasumber.

Yang masih penasaran, siapa sih Pak Dail? Silakan bapak ibu baca dulu CV Pak Dail.

https://dailalser.blogspot.com/2021/12/cv-dail-maruf-mpd.htm

Malam ini kita akan simak bersama materi dari Pak Dail tentang "Motivasi Menulis."

Malam ini tak teras akita sudah masuk materi ke 26. Kita akan  belajar bersama Bapak Dail tentang  : MOTIVASI MENULIS.

Dalam kegiatan BM upayakan niatnya yang kren. Misalnya ingin belajar jadi penulis, dan kal sudah pinter nulis mau bikin banyak buku yang bermanfaat bagi murid dan orang lain

Kl tidak ada tujuan maka galau.... kaya ABG yang nongkrong di cafe seharian. Gak hasilkan apa apa hanya ngobrol dan katawa ketiwi. Maka mumpung masih ada 4 materi , kita mulai berbenah.

Resume yang sudah dibuat ada berapa, jika belum 20 maka lengkapi. karena menang syarat 1 adalah membuat minimal 20 resume materi BM

jika sudah lebih ya Alhamdulillah, saya juga dulu lengkap alhamdulillah 30. Tapi pas mau dibikin buku galau...untung ada Bu Aam bimbing, dan akhirnya jadi. Mksh Bu Aam mentorku yang Kren Bingit


Ada 3 dalam motivasi : 1. intensitas, 2. arah dan 3.ketekunan

maka intenlah dalam menulis... luangkan waktu. BUKAN nunggu waktu luang.

maka intenlah dalam menulis... luangkan waktu. BUKAN nunggu waktu luang.

Kedua : Arah atau tujuan jelas___ Ingin mahir nulis, maka ikuti Fatwa Guru besar BLOGER Indonesia Om Jay __ MENULISLAH SETIAP HARI, LALU LIHAT APA YANG TERJADI

Dan ketiga harus tekun, kudu allahumma paksakeu, jangan turuti males, capek dan sibuk, luangkan meski hanya 15 atau 30 menit untuk nulis setiap hari di Blog lau posting


itu pikiran awal pa Dail saya kayaknya gak bisa. juga...saat akan bikin buku solo.

Nah ini virus jahat dan paling berbahaya. maka segera install anti virusnya...

yaitu segera hubungi para moderator di BM atau GMLD untung bantu Bapak dan Ibu.

kalau mereka nyerah baru ke bu Aam , bu Kanjeng dan Om jay


Langkah 1 Mulai saja. Mulai saat ini, bukan nanti. Buat Dead line. Jika ada 5 bab isi buku Bapak Ibu maka luangkan waktu 1 bab 2 hari, jadi 1 buku 10 hari. Buat saja naskahnya.

Jangan jadi editor bagi tulisan sendiri, Kacau nanti. Maka fokus tuntaskan naskah, jika berews serahkan ke editor. nanti juga rapih dan enak dibaca. itu pengalaman pa Dail 

Langkah kedua Fokus ketujuan Terbitkan Buku Solo : maka sesibuk apapun, secapek apapun, tetap kudu luangkan waktu untuk lanjutkan kerjaan/ PROYEK BESAR BUKU SOLO.

jika kita fokus ke garis finish maka halangan dan rintangan tak ada diperdulikan. Takbiiir ...

lihat sampai matanya dipakaikan kacamatakuda biar tak lihat kanan kiri apalagi ikutan rumpi. Stop dulu

Dari tiga motivasi tersebut bapak ibu masuk yang mana? kalau tidak ketiga tiganya ya tambahkan aja keempat dan setererusnya




Writing Is My Passion itu antologi pertama beliau  di BM 19 dan 20 tim F1

selanjutnya setiap pekan ikut antologi.
baru bikin 15 dan sedang 5 lagi moga 2020 genap 20 buku antologi ikutan




Contoh  bu Aam dan para penulis sudah punya 5 kekayaan itu. makanya pada subur dsn ketawa melulu. Bahagia insya allah kita mah...

dari tiga manfaat itu alhamdulillah pa Dail tambahannya waktu jadi terasa berguna gak sia-sia' sudah dapat semuanya ... malah 4



Nah yang tengah itu buku solo pa Dail  yang dibimbing Mentor Cantik Bun Aam dari Lebak

SIAPAKAH 10 PENULIS PALING TERLKENAL DI DUNIA ??








KALAU INI? ....jk ROLING 



Nah ini beberapa penulis terkenal di Nusantara

Sang Laskar pelangi nomor wahid






nah kalau ini ustazah , bu guru dan alumni ponpes pastinya kenal banget Bu Asma nadia dan Pak habiburrahman

Semua penulis terkenal semoga menjadi motivasi aamiin 

  Ibuku Wanita Hebat ( Kekuatan Ibu Semangat Kami)       Karya : Romdiyah MI. ASH-SHIDDIQIN         Pagi ini sangat ce...