Ibuku Wanita Hebat
( Kekuatan Ibu Semangat Kami)
Karya : Romdiyah
MI. ASH-SHIDDIQIN
Pagi ini sangat cerah aku akan berangkat ke sekolah,
namun pagi ini aku sedikit tak bahagia karena hanya mendapat sedikit uang
jajan. Ini uang jajan caca. “ucap ibu kepada caca”, “Ibu … masa segini saja
uang sekolah aku, untuk ke sekolah dengan uang jajan segini hanya dapat es teh
dan bakwan, sementara teman-teman aku banyak sekali jajannya”.”jawab caca”. Ibu
mengerutkan kening dan seolah mencoba untuk menenangkan aku.
Nak, itu dulu ya uang jajan yang ibu berikan untukmu,
karena ibu hanya dapat uang segitu, nanti besok ibu pasti berikan lebih untuk
kamu. Ibu seperti menahan tangis, uang itu ibu dapat hasil meminjam kepada
tetangga. Ibu tetap tegar di hadapan kami seolah tak terjadi apa-apa.
Sudah ayo pergi sekolah, berapapun uang jajanmu itu
sudah cukup, yang penting kamu harus rajin belajar ya dik.”ajak kakak seolah
merayu aku untuk tidak merengek”
Aku dan kakak berpamitan dengan ibu untuk pergi ke
sekolah. Sesampainya di sekolah kami masuk ke dalam kelas masing-masing untuk
mengikuti kegiatan belajar di kelas, eperti biasa aku semangat mengikuti
kegiatan sekolah, agar dapat juara kelas
Hari itu jam pelajaran pertama
Adalah upacara bendera, di sekolah aku setiap hari senin siswa menggunakan
seragam rompi, hati aku mulai merasa tak nyaman dengan keadaan. Ibu … aku malu
tidak berseragam, sementara kakak menggunakan seragam.
Sayang anak ibu yang cantik,
seragam kakakmu masih kebesaran untuk kamu, nanti sebentar lagi kakakmu lulus
sekolah, baju itu pasti untuk kamu. “ jawab ibu dengan nada merayuku lagi”. Tapi
aku malu bu “ucap caca” ibu pasti belikan seragam sekolah untuk kamu seperti
kakak, nanti ibu dapat uang pasti ibu belikan.”jawab ibu”
Bel sekolah pulang sekolah
berbunyi. Teng … teng … teng, aku berlari segara pulang kerumah untuk mengganti
pakaian sekolah. Ibu aku pulang, aku mengucapkan salam dan mencium tangan
ibuku. Ibu, aku mau pergi dulu bermain Bersama teman-temanku. Caca, makan dulu nak, ibu sudah menyiapkan
makanan untukmu. ”ucap ibu”
Aku tengok di rak makan
ternyata hanya oreg tempe yang basah yang selalu ibu masak untukku, aku tetap
makan walaupun rasanya begitu membosankan. Setelah ini aku berkeliling
berjualan es, jadi aku harus makan agar aku kuat, nanti kalau aku dapat uang
bisa untuk menambah uang jajan sekolahku, ibu tak perlu tahu apa yang aku
lakukan.”caca berucap dalam hatinya”
Es…es… es bombom enak, teriak aku seraya memanggil
pembeli, semoga daganganku habis hari ini. Hai tukang es aku mau beli.” Panggil
seorang anak hampir sebaya denganku”
Hari sudah hamper sore daganganku belum habis juga,
akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan mengembalikan dagangan es kepada
pemiliknya, berpapun hari ini yang aku dapat itu rezeki.
Aku berlari dengan kencang menuju ke rumah, sebelum
aku mengucapkan salam nampak ibu dan kakak sedang asyik mengobrol berdua,
akupun penasaran sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan. Terdengar suara
mereka nampak begitu serius, aku semakin penasaran.
Ibu, saat ibu kecil dimana ibu bersekolah “ ucap
kaka”. Saat ibu kecil ibu sangat sulit ke sekolah karena ibu harus bantu
nenekmu terlebih dahulu ke sawah baru ibu bisa ke sekolah, bahkan ibu sering
berlari-lari dari sawah agar tidak terlambat ke sekolah. Jika ibu tidak mau
makan kami tidak memiliki beras yang bisa kami masak untuk makan.
Ibu, aku sangat sedih sekali
mendengar cerita ibu, kemana ayah ibu?
“ucap kakak”. Ayah ibu sudah tidak ada, nenekmu membesarkan kami, ibu
empat bersaudara yang tinggal bersama nenekmu. Saat kami lapar cukup dengan
nasi dan sedikit garam saja sangat nikmat dimakan Bersama.
Saat ibu takut dengan gelapnya
malam dan rumah bilik yang masih memiliki lubang-lubang di tengah kegelapan,
ibu pejamkan mata erat-erat agar pagi hari segera datang,” ucap ibu kepada
kakak”
Tak terasa mendengar
percakapan ibu dan kakak, pipiku basah, ternyata cerita itu membuat aku haru
dan menangis, aku begitu banyak sekali menyusahkan ibu, sementara kakak selalu
sabar kepada keadaan.
Tapi, aku juga begitu kesal,
mengapa ibu tidak mau menceritakan hal itu kepadaku juga, apakah ibu hanya
saying kepada kakak, sedangkan aku anak yang menjengkelkan bagi ibu.
Geruduk geruduk… geruduk
geruduk, bunyi petik sangat kencang sekali, aku berlari dan segera memeluk ibu.
Ibu … aku takut. Ibu segera menghampiriku dan memeluk aku erat-erat.
Caca, kakak, cepat naik ke kasur
sepertinya sebentar lagi hujan akan turun “Ucap Ibu”. aku dan kakak segera
berlari ke Kasur. Setelah kami menaiki Kasur tak lama kemudian air begitu
derasnya masuk ke rumahku yang berlantai kayu. Air itu berasal dari kali
belakang rumahku yang meluap. Air itu mulai setinggi kasur yang aku tiduri. Ibu
aku takut “teriak caca ketakutan”
Ibuku mulai mengganjal pintu
rumah dengan kayu dan kain, tetap saja air itu deras mengalir, keesokan harinya
air mulai setinggi paha orang dewasa, ibuku memutuskan menitipkan aku di rumah
kediaman teman ayah bersama kakakku.
Walau hati ini berat namun aku
harus ikuti perintah ibuku, karena aku yakin ini yang terbaik untuk kami. Caca
dan kakak untuk sementara waktu tinggal di rumah teman ayah dulu ya, “ujar ibu
kepada kami”. Baik ibu “kami menjawab dengan nada yang sedih”.
Kakak, semoga ibu segera menjempu kita dari sini,
akum au sama ibu.”ucap caca”. Sabar de, nanti kalau banjirnya sudah surut pasti
ibu akan menjemput kita dari rumah ini. “jawab kaka”
Keeskokan harinya aku dan kaka
di jemput ibu, hore… hore, ibu aku kangen sama ibu, sambil berlari dan memeluk
tubuh ibuku yang Nampak begitu lelah. Caca, kakak sini, ibu memeluk kami
berdua, ayo kita pulang, ibu berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada
pemilik rumah.
Senang rasanya sekarang
rumahku sudah tidak kebanjiran lagi, aku bisa bermain bersama kakak di rumah
dan bisa tidur Bersama ibu lagi. Tetapi aku lihat ibu seperti sedang tidak
baik-baik saja ada apa dengan ibu yah.
Keesokan harinya ibu tertidur
nyenyak sekali dan tak bangun-bangun, mata ibu terpejam seakan sudah tidak
bernyawa lagi. Ibu, ibu bangun, aku dan kakak menagis melihat ibu yang sudah
seakan tak bernyawa, ibu… ibu… ibu… kupeluk dan kupanggil ibu sambil menangis
pilu
Pagi itu, kami melihat ibu di
kamarnya, saat itu ibu tidak bangun dan tak bisa bergerak, bangun dari tempat tidur
ibu tidak bisa, duduk tidak bisa, hanya matanya saja yang mulai terbuka, tubuh
ibu yang mulai menguning, entah penyakit apakah ini yang ibu alami.
Kulihat dari sinar mata ibu
yang mulai hampir redup, ada perjuangan ibu yang gigih untuk tetap bertahan,
ibu, aku tahu ibu Wanita hebat, ibu kuat, aku sayang ibu, tetap bertahan ibu
aku akan selalu menjagamu.
Setiap hari kami menyuapkan
ibu, walau hanya sedikit yang masuk di mulut ibu kami tetap semangat berjuang
menjaga ibu, ibu pasti lelah mengurus kami, ibu tetap semangat ya, kami akan
selalu berjuang untuk ibu, tapi kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan,
kami tidak memiliki uang untuk membawa ibu ke dokter, untuk makan saja kami
harus mendapat belas kasihan orang lain.
Caca, kakak, panggil ibu
lirih, mata kami terbelalak melihat ibu mulai menggerakkan tangan sambil
memanggil kami. Ibu… kami mendekat, ibu menangis, dan sudah bisa menggapai
tangan kami sambil memeluk kami.
Nak, ibu baik-baik saja jangan
menangis, ibu minta tolong kepada kalian, pergilah ke rumah teman ibu yayah
untuk meminjam uang dan panggilkan dokter zein ke rumah ini.
Baik bu kakak akan ke rumah
ibu yayah dan memanggilkan dokter ke sini, dek kakak pergi dulu, jaga ibu
baik-baik ya”ucap kakak kepada caca”. Baik kak aku akan menjaga ibu selama
kakak berada di luar rumah, “jawab caca”.
Suara dari luar rumah mulai
terdengar, kakak, ternyata yang datang Bersama dokter zein dan ibu yayah.
Senang rasa hati melihat dokter memeriksa ibu. Apa yang ibu rasakan,”tanya
dokter kepada ibu”. Tubuhku terasa kaku dan tidak dapat bergerak dok, “jawab Ibu”
dokter mengeluarkan alat terapi sederhana dan di dekatkan kepada ibu, setiap
hari ibu diterapi oleh dokter dengan bantuan biaya dari teman ibu.
Setelah satu minggu ibu
berhasil bisa berjalan kembali, senang rasanya hati ini, karena ibu sudah dapat
berjalan kembali, kakak tetap bersiaga menjaga ibu agar tidak tumbang lagi.
Duk, duk, duk, sebelum shubuh
suara yang biasa aku dengar terdengar Kembali, sepertinya ibu mulai
beraktivitas Kembali. Aku dan kakak mulai terbangun, di meja sudah siap sarapan
untuk kami seperti biasa ibu mulai memasak sebelum shubuh.
Caca, kakak, ibu akan pergi ke
pasar untuk berjualan ikan, kalian bangun dan segera Bersiap-siap untuk
bersekolah,”ucap ibu kepada kami”, baik ibu, “jawab kami” apakah ibu sudah
sehat, “kakak bertanya kepada ibu”, sudah nak ibu sudah baik-baik saja”ucap ibu”
Seember ikan, dan satu kantong
plastik ikan yang sudah ditusuki oleh tusukan sate digotong dengan penuh
semangat oleh ibu. Aku berharap nanti Ketika aku sudah besar ibu tak harus
susah seperti ini lagi, tak perlu duduk di pojok pasar dan berjualan ikan lagi.
Setelah kami pulang sekolah
ibupun pulang dari pasar, kami selalu meilhat ibu walau Lelah tetap semangat,
ibu menyisihkan uang hasil berdagangnya untuk biaya sekolah kami, agar kami
bisa pergi ke sekolah seperti teman-teman kami yang lain, ibu tak ingin melihat
kami sedih.
Caca, kakak, tetap semangat
belajar ya, ibu akan selalu mendampingi kalian hingga nanti kalian sukses,
jangan malu dengan keadaan kita yang saat ini belum seperti teman- teman
kalian, hidup berkecukupan, pakaian bagus, jajan banyak, tapi malulah jika kalian
tidak menjadi anak yang baik.
Ibu, kami pasti akan semangat,
ibu tahu kan kami anak ibu yang tidak cengeng, kami kuat, pemberani dan pintar,
“ucap kami kepada ibu”, sambil tersenyum kami saling berpelukan dan mendoakan
satu sama lain, semoga kita semua menjadi bidadari-bidari ibu di surga.

